Archive | all about aceh RSS for this section

Help Gayo, Pray for Gayo

Musibah kembali menyapa saudara kita, pada selasa tanggal 2 juli 2013 lalu gempa yang berpusat di daratan tinggi bener meriah dan aceh tengah digoyang gempa 6,2 skala richter yang menelan korban jiwa dan menyebabkan 52.113 warga menjadi pengungsi. Selain itu, gempa tersebut menyebabkan 16.019 unit bangunan rusak yang dirincikan rusak berat sebanyak 6.178 unit, rusak sedang 3.061 unit dan rusak ringan 6.780 unit. Mari bersama mengulurkan bantuan sesuai kapasitas untuk meringakan beban saudara kita yang ditimpa musibah apalagi di Bulan Ramadhan yang pasti sangat membutuhkan perlengkapan dan fasilitas yang layak untuk korban dalam menunaikan ibadah puasa dan shalat tarawih berjamaah.
HELPGAYO
Silakan salurkan bantuan anda via POSKO BERSAMA SOSIAL MEDIA #pray4Gayo @DarahuntukAceh, @Iloveacehrayeuk, @Iloveaceh, @aceh_adventure, @KaskusRegAceh, @cimsaunsyiah , dll.

Menggali kembali identitas keacehan by banta sidi bin thaib ismail

Dengan sumberdaya yang dimiliki aceh kala itu (red:zaman dulu) masyarakat aceh wajar berbangga dan patut diperhitungkan dari segi apapun, Aceh dulu memiliki cendikiawan-cendikiawan kelas dunia, memiliki keimanan dan mental yang kuat, rela berkorban untuk membela agama, ekonomi makmur pemerintahan kaya dan rakyat sejahtera, Disiplin yang tinggi dan beretika, santun dan punya prinsip. Rakyat aceh waktu itu dihargai karena martabat yang tinggi dan mulia. Berbicara sekarang ini rakyat aceh sebenarnya sudah tidak seharusnya membanggakan diri dengan kondisi aceh yang hancur-hancuran mundur jauh dari masa lalu, dari segi pendidikan aceh jauh ketinggalan, segi keimanan pondasi aklhak porakporanda dari kaum pejabat sampai rakyat jelata sudah tidak peduli iman sebagai ukuran, mengedepankan nafsu diatas segalanya, hilang rasa malu bangga dengan maksiat dll, dari segi ekonomi lebih parah, rakyat tergantung APBA. Terus?sampai kapan aceh seperti ini?dimana kebanggaan yang dulu melekat pada endatu aceh?dengan harkat dan martabat yang rendah aceh saat ini, bukan tidak mungkin kejayaan masa lalu akan dikenang sebagai dongeng oleh generasi selanjutnya karena identitas aceh sudah semakin hilang dan lenyap sama sekali.

Dibalik semua itu memang masih ada beberapa prestasi aceh yang layak di banggakan namun kebanggan itu tidak sebanding dengan kehancuran yang terjadi disetiap sudut aceh. Jadi siapa yang bertanggung jawab dengan aceh saat ini? Pemuda yang harus bertanggung jawab bukan pemerintah karena pemerintah dipilih oleh masyarakat, ketika memilih pemuda untuk memimpin berarti itu adalah pilihan yang terbaik dari yang paling baik. Read More…

Mengapa Buraq-Singa? oleh Sarwo Edi

SATU topik yang membuat Aceh menjadi bahan pemberitaan kembali adalah tentang disahkannya Bendera dan Lambang Aceh. Lambang ini sudah dikenal sebelumnya sebagai lambang Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) atau gerakan Aceh merdeka (GAM) bergambarkan dua binatang buraq dan singa dengan semboyan Hudeep beusare mate syahid.

Saya tidak tahu siapa yang mendesainnya, tapi yang menjadi keheranan saya adalah semiskin inikah kebudayaan Aceh, sehingga perlu mengimpor gaya perlambangan dari kebudayaan Eropa? Mengapa orang yang meneriaki lambang sebagai identitas, tetapi tidak tahu kalau lambang itu bukanlah identitas kita?

Bukan bermaksud bersikap xenophobia, akan tetapi mengapa tidak kita mengambil dulu dari kebudayaan leluhur kita? Apa karena malu, kurang percaya diri, dan kurang wah dengan memakai budaya sendiri? Seperti kata pepatah, orang kalah selalu mengikuti yang menang.

Aturan Heraldry

Lambang Aceh yang disimbolkan dengan buraq dan singa itu sendiri sangat mirip dengan lambang yang mengikuti aturan Heraldry. Heraldry merupakan kaidah perlambangan yang awalnya berkembang dari Prancis dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Untuk lambang kerajaan, biasanya, bercirikan dengan sebuah perisai bermahkota diapit dengan dua binatang di sisi kiri dan kanan ditambah motto di bawah. Read More…