Menggali kembali identitas keacehan by banta sidi bin thaib ismail

Dengan sumberdaya yang dimiliki aceh kala itu (red:zaman dulu) masyarakat aceh wajar berbangga dan patut diperhitungkan dari segi apapun, Aceh dulu memiliki cendikiawan-cendikiawan kelas dunia, memiliki keimanan dan mental yang kuat, rela berkorban untuk membela agama, ekonomi makmur pemerintahan kaya dan rakyat sejahtera, Disiplin yang tinggi dan beretika, santun dan punya prinsip. Rakyat aceh waktu itu dihargai karena martabat yang tinggi dan mulia. Berbicara sekarang ini rakyat aceh sebenarnya sudah tidak seharusnya membanggakan diri dengan kondisi aceh yang hancur-hancuran mundur jauh dari masa lalu, dari segi pendidikan aceh jauh ketinggalan, segi keimanan pondasi aklhak porakporanda dari kaum pejabat sampai rakyat jelata sudah tidak peduli iman sebagai ukuran, mengedepankan nafsu diatas segalanya, hilang rasa malu bangga dengan maksiat dll, dari segi ekonomi lebih parah, rakyat tergantung APBA. Terus?sampai kapan aceh seperti ini?dimana kebanggaan yang dulu melekat pada endatu aceh?dengan harkat dan martabat yang rendah aceh saat ini, bukan tidak mungkin kejayaan masa lalu akan dikenang sebagai dongeng oleh generasi selanjutnya karena identitas aceh sudah semakin hilang dan lenyap sama sekali.

Dibalik semua itu memang masih ada beberapa prestasi aceh yang layak di banggakan namun kebanggan itu tidak sebanding dengan kehancuran yang terjadi disetiap sudut aceh. Jadi siapa yang bertanggung jawab dengan aceh saat ini? Pemuda yang harus bertanggung jawab bukan pemerintah karena pemerintah dipilih oleh masyarakat, ketika memilih pemuda untuk memimpin berarti itu adalah pilihan yang terbaik dari yang paling baik.

Hal pertama yang perlu dibenahi aceh saat ini adalah sumberdaya manusia yang kompeten dan tangguh serta berakhlak mulia. Banyak orang aceh yang membicarakan aceh memiliki kekayaan alam, kataya daerah modal dengan kekayaan yang melimpah namun apa yang bisa kita lakukan dengan semua itu???apakah kita sebagai bangsa yang Dianugerahkan kekayaan Alam oleh Allah SWT punya kapasitas untuk mengeksplorasinya??lagi-lagi negeri luar memiliki kesempatan untuk  itu, semua kekayaan alam aceh akan segera dikuasi dengan berbagai tipu daya yang masuk akal. Setiap detail watak aceh dipelajari kemudian menundukkan dan semuanya selesai. Hingga beberapa generasi selanjutnya ketika kekayaan hampir semuanya disedot habis, para mahasiswa dan masyarakat yang merasa menjadi korban turun kejalan teriak-teriak tentang keadilan. Cukup adil sebenarnya menggingat kita sebagai pribumi tidak memahami dan tidak punya kualitas untuk menggarap semua kekayaan alam kita sendiri, sementara mereka menghabiskan puluhan tahun untuk belajar mempelajari segala hal. Ingat kearifan lokal aceh dalam hadist maja “Ureung areh han tom kanjai, Ureung Meu-akai han tom binasa”.

 Belajar dan menuntut ilmu adalah salahsatu bentuk mensyukuri Nikmat Allah SWT, tanpa ilmu kita akan mudah sesat dan diperbudak oleh mereka yang bertopeng dewa yang sebenarnya hanyalah kapitaslisme, sekali lagi hadist maja “Hina Bak Donya Hareuta teuh tan, Hina bak Tuhan Ileumei hana”.  Sebagai muslim, salah satu kewajiban adalah menuntut ilmu tanpa ilmu kita tidak berguna untuk diri sendiri maupun orang lain.

Dengan ilmu kita akan jadi tuan bagi tanah kita sendiri, mempelajari bagaimana kejayaan aceh dulu bisa terwujud, apakah dengan perang atau dengan otak. Begitu juga dengan identitas-identitas aceh masa lalu yang merupakan kekayaan intelektual aceh masalalu perlu di gali kembali dan dijadikan aset berharga bagi seluruh rakyat aceh.

Begitu banyak seni, adat isitadat dan budaya aceh yang telah lenyap dari sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Kita selalu berbangga dengan budaya asing, karena budaya eropa dan barat kita pandang sebagai kiblat modern, mereka memiliki berbagai media untuk mengkampanyekan budaya mereka untuk kita ikuti, kita lupa bahwa kita akan lebih dihargai bila mampu mempertahankan prinsip dan budaya kita sendiri. Bahasa aceh sudah kurang disukai oleh rakyat aceh, dikampung-kampung saja bayi sejak lahir mereka sudah diajarkan bahasa melayu padahal ibu dan bapaknya jelas aceh tok-tok, ketika anaknya dewasa berbicara dengan bahasa melayu yang terdengar akan sedikit unik, istilah zaman kami sebagai ATT, aceh tok-tok meubalok-balok rot bak gaki bengkok.

Terus kenapa kita merasa marah ketika bangsa kapitalis datang mengekplorasi negeri kita dan menginjak-injak derajat kita sebagai bangsa yang mulia.  karena kita perlu tanyakan kembali apakah kita sekarang bangsa yang mulia?? Bukankah kita bangsa pengikut mereka?dimana letak kemuliaan itu bagi mereka??dari fashion, food, Film and fun mentah-mentah mengadopsi budaya mereka. Akhlak masyarakat aceh sekarang sudah tidak bisa diatur lagi dengan berbagai qanun syariat karena alat yang bernama HAM, Demokrasi dan lainnya cukup membungkam kaedah-kadeh keislaman, kenapa ulama tidak memulai dari generasi baru untuk dibekali dengan pendidikan-pendidikan agama agar kelak bila menjadi pemimpin lebih beretika dan bermartabat. Dimulai dari rumah (keluarga) pendidikan akhlak mulai diterapkan, bagaimana pemerintah melarang ngangkang style bila orang tuanya sendiri mengizinkan anaknya pakai baju ala eropa ketika dijemput oleh pacarnya. Mustahil perda itu akan berjalan tanpa adanya kesadaran dari diri sendiri untuk memahami bahwa akhlak dan etika yang mulia melambang harga diri kita masing-masing.

 

saleum

 

Tags:

About rajak

Silakan di copas (copy paste) tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. Saleum Acehdesain........

bagaimana menurut anda??silakan direspon..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: