Indonesia Art Award (IAA) 2010 : “Contemporaneity”

MUNGKIN ini masih tetap ditunggu. Mungkin juga ini masih menjadi pangkal seteru. Atau setidaknya, iklim kreativitas sedikit banyak akan terpacu. Ya, kompetisi Indonesia Art Award (IAA) datang lagi. Terakhir, kompetisi ini berlangsung 2 tahun lalu. Kehadirannya sangat dimungkinkan akan membuat dinamika seni rupa Indonesia (kembali tambah) seru.

“Jaminan” serunya kompetisi ini antara lain dari tajuk kompetisi, yakni “Contemporaneity”. Tajuk ini mencoba mengulik kembali aspek kekontemporeran karya seni rupa, tentu dengan cara pandang, pemahaman, pendekatan serta eksekusi yang akan terus berubah dan diperbarui. (Detil dari konsep “Contemporaneity” ini bisa disimak pada keterangan di bagian bawah).

Jim Supangkat, sebagai ketua tim juri, juga mengungkapkan bahwa kompetisi akan sangat mungkin seru, juga memancing arus kontroversi, karena kompetisi ini tidak mutlak menuntut pada (calon) peserta untuk menyertakan karya baru sama sekali. “Karya bisa merupakan karya yang dibuat antara tahun 2000 hingga 2010. Sudah pernah dipamerkan dan sudah dilkoleksi tak jadi masalah, asal belum pernah diikutkan dalam kompetisi seni rupa dimanapun,” tuturnya.

Modus yang relatif baru dalam kompetisi itu tentunya punya target, yakni antara lain untuk membaca dan memetakan kembali kontemporerisme dalam seni rupa Indonesia pada kurun satu dasawarsa terakhir. Bisa jadi, ini untuk menepis sekaligus meluaskan cakrawala pemahaman publik (seni rupa) bahwa karya seni rupa yang kontemporer bukan hanya sesempit yang muncul dalam 2-3 tahun terakhir dan seolah hanya menguat pada karya dengan kecenderungan visual dan medium tertentu saja. Terlebih lagi dengan “klaim-klaim” sepihak yang dikonstruksi oleh pasar yang memungkinkan perluasan paham kontemporer itu tidak terjadi.

Kompetisi ini dibuka mulai 30 Januari dan ditutup 2 April 2010. Peserta bisa terlebih dahulu mengirimkan karya berupa foto berukuran minimal 10 R beserta konsep karya maksimal 400 kata atau setara dengan satu halaman kuarto. Pengiriman foto karya juga dimungkinkan dalam bentuk digital, yakni berupa pengiriman CD dan/atau lewat e-mail, tentu dengan resolusi yang memadai (tidak terlalu kecil atau tidak terlalu besar).

Dari semua karya yang kelak masuk, akan dipilih sejumlah finalis. Kemungkinan jumlah finalisnya tentu akan bergantung pada kualitas karya (versi tim juri) yang masuk dalam penjurian. Jim Supangkat memperkirakan jumlah finalis akan berkisar pada angka 60-100 karya/nama. Karya semua finalis akan dipamerkan di Galeri NAsional Indonesia (GNI) antara tanggal 17 hingga 27 Juni 2010. Dari finalis itu juga akan ditentukan 3 Karya Terpilih. Masing-masing akan mendapatkan Rp 50.000.000 (limapuluh juta rupiah). Memang, ini bukan angka yang relatif besar bagi sebagian perupa yang tengah “manis-manisnya” dirubung pasar. Namun, konteks perbincangan ihwal kompetisi ini bukan berkisar pada angka-angka rupiah, melainkan lebih pada perihal nilai-nilai, gagasan-gagasan, yang dibutuhkan dalam perkembangan seni rupa. Maka, iklim kompetisi (dengan banyak cara) harus terus dikondisikan. Termasuk lewat jalur kompetisi ini. Dari iklim kompetitif itulah dimungkinkan dinamika akan terus memberi pembaruan. Semoga!

Contemporaneity adalah tanda-tanda seni rupa kontemporer yang terlihat pada karya. Pewacanaan paling umum yang seringkali diyakini mendasari contemporaneity adalah perubahan dari seni rupa modern ke seni rupa kontemporer. Pada karya-karya terlihat sebagai: Pembebasan media ungkapan yang tadinya terbatas pada seni lukis dan seni patung; Pembebasan narasi dan theatricality yang tadinya “di-tabu-kan”. Pembebasan bahasa visual (khususnya bahasa seni lukis dan bahasa seni patung) dari ikatan sejarah seni rupa linier di mana sesuatu bahasa (tercermin pada isme) dianggap mati, setelah kemunculan sesuatu bahasa baru (isme baru).

Akan tetapi sampai sekarang contemporaneity tidak pernah bisa dipastikan karena tidak satu pun dari pemikiran pada perkembangan seni rupa kontemporer yang (bisa) muncul menjadi paradigma. Maka pewacanaan tanda-tanda seni rupa kontemporer masih “terbuka” hingga kini untuk kemunculan tanda-tanda baru.

Penambahan tanda-tanda seni rupa kontemporer itu terjadi terutama karena munculnya tanda-tanda kultural pada perkembangan seni rupa kontemporer di luar Eropa, Amerika Serikat. Pewacanaan seni rupa kontemporer yang mendasari gejala ini adalah kembalinya  seni rupa ke masyarakat (konteks) dan kebudayaan (kebudayaan populer dan kebudayaan etnik). Tercermin pada kemunculan Pop Art (1960) dan gerakan multikulturalisme (1970) pada awal perkembangan seni rupa kontemporer.

Sekarang ini seni rupa kontemporer memasuki perkembangan global. Dalam proses ini seni rupa kontemporer tidak bisa menghindar dari tanda-tanda kultural (dunia) yang beragam karena globalisasi juga tidak bisa menghindar dari kondisi multi-kultural dunia.

Bingkai Indonesia Art Award 2010 adalah pewacanaan contemporaneity dalam perspektif Indonesia melalui pameran karya-karya yang masuk nominasi, khususnya karya-karya yang mendapat award. Karena itu Indonesia Art Award 2010 tidak terbatas pada pencarian karya-karya terbaik. Kompetisi ini meliputi pula pewacanaan contemporaneity pada perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Pewacanaan ini didasari keyakinan bahwa para peserta kompetisi mempunyai pemahaman, penafsiran bahkan pandangan personal tentang seni rupa kontemporer. Persepsi dan pandangan seniman yang tercermin pada karya tidak bisa dilepaskan dari pewacanaan contemporaneity.

Tim Juri/Tim Kurator

Jim Supangkat (Ketua)
Asmudjo Jono Irianto (Anggota)
Suwarno Wisetrotomo (Anggota)
Rizki A Zaelani (Anggota)
Kuss Indarto (Anggota)

Persyaratan mengikuti kompetisi:

1. Terbuka untuk perupa/seniman seluruh Indonesia, atau seniman asing yang tengah tinggal di Indonesia, minimal berusia 18 tahun.
2. Karya yang disertakan diyakini peserta adalah karya seni rupa kontemporer.
3. Setiap perserta hanya boleh menyertakan  (1) satu karya.
4. Karya yang disertakan tidak pernah diajukan mengikuti kompetisi mana pun.
5. Karya yang disertakan tidak harus karya baru. Bisa disertakan karya yang sudah pernah dipamerkan dan karya-karya yang sudah dikoleksi. Batas waktu pembuatan karya, antara tahun 2000-2010.
6. Karya yang disertakan dilengkapi tulisan sepanjang (maksimal) 400 kata (1 halaman kuarto). Tulisan bisa berupa penjelasan karya atau penjelasan gagasan, atau latar belakang pemahaman seni rupa kontemporer atau konsep karya. Tulisan bisa dilengkapi dengan portofolio.
7. Setiap karya harus dilampirkan keterangan karya dengan jelas, judul, ukuran, media, tahun serta berat karya. Peserta wajib mencantumkan nama, alamat, nomor telpon, dan alamat email dengan jelas.

Hadiah Indonesia Art Award 2010

3 Karya Terpilih @ Rp. 50.000.000,- + Trophy dan Sertifikat

Batas Pengiriman foto/CD/e-mail karya: 2 April 2010 (cap pos).

Panitia Indonesia Art Award 2010

Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI)
Gd. B Galeri Nasional Indonesia (GNI),
Jl. Medan Merdeka Timur No. 14
Jakarta Pusat 10110
Telp. 021-3861603, Fax.021-3861535
E-mail: ysri_seni@yahoo.com

Tags:

About rajak

Silakan di copas (copy paste) tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. Saleum Acehdesain........

2 responses to “Indonesia Art Award (IAA) 2010 : “Contemporaneity””

  1. newsmaya says :

    pertamax…. good info bro.. Like this

  2. nagaselatan says :

    tq udah mampir…
    salam kenal😀

bagaimana menurut anda??silakan direspon..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: