Corel vs Illustrator

oleh : Zamroni Agus (Lulusan STISI – Bandung | Product Design, Graphic Design)

Belum lama neh kawan-kawan baik di Aceh maupun di Bandung banyak memperbincangkan 2 software desain grafis tersebut, ada yang pro dan kontra diantara keduanya. Pengguna Corel boleh dikatakan masih merajai pasar industri kreatif di kedua kota tersebut. Sebagian besar iklan koran yang membutuhkan desainer grafis mencantumkan syarat “….harus menguasai corel bla..bla…”

Perbincangan diawali dari yang pro illustrator, dia menyesalkan kenapa percetakan di Bandung banyak yang masih base on corel padahal kalo dilihat dari kualitas warna sangat jauh penurunannya. Mendapat komentar seperti itu
yang pro corel langsung memberikan alasan corel itu simpel n praktis pokoknya enak deh “…..ngapain pake ilustrator gak laku disini (bandung red.)kalo mo pake ilustrator jangan di Bandung ke Jakarta sono pada pake semua”. Komentarnya dengan bangga.

Haha….lucu jadinya seolah-olah pengguna software tersebut memiliki batas teritorial sendiri untuk Bandung diklaim markas besarnya suhu-suhu pengguna corel, sedangkan Jakarta markasnya pengguna illustrator.he..he…

Nah…menelaah kasus di atas bagaimana menurut kawan-kawan pendapatnya tentang penggunaan corel dan illustrator?
Bagi yang pro corel alasannya apa? Kelebihannya apa?
Begitu juga bagi yang pro illustrator, utarakan pendapatnya alasannya apa? kelebihannya apa? dapat juga menilai kelemahan dari keduanya, siapa tahu diskusi neh dilihat n dibaca para pengembang software tersebut di sono.hehehe….. (ngarep)

Karena menurut saya dua-duanya memiliki ciri khas tersendiri sehingga sampe muncul dan beredar di pasaran.

Sedangkan menurut Joel (Direktur Jroh Production) yang beralamat di Jl. T. Iskandar no. 50 F Lhambuk, Ulee Kareng,

Corel itu emang simple, Tapi Illustrator lebih POWER FULL. Menurut ku sih Corel masalahnya cuma satu, palet warnanya dari dulu ampe yang versi X4 sekali pun masih ngaco, sehingga warna hasil cetak dengan yang kita desain di Compi cenderung berbeda, jarang sekali yang PAS!
Pengalaman Jadi Freelancer dari taon 2003 ampe 2006 (make corel) sering bermasalah ama warna yang ga sesuai. Akhirnya taon 2007 awal mencoba mencari tau dari para senior, akhirnya di rekom untuk make FreeHand yang ternyata bagi ku sulit dan kurang nyaman. Akhirnya mulai mencoba migrasi ke Adobe Illustrator CS3, ternyata cuma butuh waktu 3 hari untuk penyesuaian!!! selebihnya maknyusssss!

Masih menurut Joel, Emang awalnya di Aceh, medan, dan bandung sekali pun banyak yang ga mau menerima file Ai (illustrator) karena hasilnya bisa aneh! nah ini masalahnya file Ai di buka pake Corel! ya jelas amburadul! jadi kesimpulannya orang2 di percetakan males install dan kudu belajar lagee…jadi nya kita yang di salahin kenapa pake Ai.

Setelah mencoba menjelajah di Dunia Maya, ternyata orang di luar negri kalo bikin file siap cetak tu dalam bentuk PDF, bukan dalam file mentah (*.cdr / *.ai, dll). nah pas di coba bikin pake PDF, orang2 dipercetakan , khususnya di Aceh malas lebih ga bisa lagi ngurusinnya…katanya ini ga bisa di buka di corel (lagi-lagi!) dan ga bisa di edit lagi! nah aneh kan?! udah jelas itu file siap cetak, kenapa harus bisa di edit lagi? dan sebenarnya kalo buka pake Ai bisa.

So..akhirnya aku temukan juga partner yang bisa ngerti dan Akhirnya JROHproductions punya workshop cetak yang insyaAllah ga ada lagi masalah dengan ketidakcocokan warna.

Tags: ,

About rajak

Silakan di copas (copy paste) tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. Saleum Acehdesain........

13 responses to “Corel vs Illustrator”

  1. guson says :

    klo boleh milih sih (mang sapa yang nyuruh?) gua pasti lari ke software yang katanya punya performa lebih dibanding corel (ilustrator). yang aku rasain selama ini pas make corel ya simple, easy, mangat, en siiip lah… sebagai seorang pemula di dunia vektor (mo sampe kapan jadi pemula terus?) coreldraw pas banget buat belajar desain grafis. tools-nya mudah diingat, bis tu make-a ga ribet.
    namun semua kemudahan itu tidak membuatku betah, makanya pengen nyoba ilustrator yang lebih powerfull, semoga bisa nambah ilmu
    klo pake yang itu2 terus kapan berkembangnya, ya gak?

  2. nagaselatan says :

    betoi nyan….
    maka jih ikot pelatihan adobe ilustrator di JROH….
    ksempatan bagus tuch..

  3. Aulia says :

    adak na teuh di Aceh kon ta ikot…
    semoga workshop beujroh lah…
    tetap berkreasi ngon🙂

  4. alen says :

    menurut saya sih tergantung kebutuhan, tapi paling enak emang bisa semua he he.., tapi yang bekerja di bidang printing selain offset, seperti sablon, rotogravure, dan flexo kelihatane enakan kerja pake corel, khususnya untuk pecah warna manual
    tapi emang untuk berkreasi dengan vector aliran pop art seperti yang rame saat ini cepetan pake Ai

    lagian kalo bisa semua khan ladang kita semakin lebar pula ladang kita

    trus mas, kadang kadang bahasa “siap cetak” kita dengan orang printing itu beda, karena yang mereka lihat bukan desainnya tapi ukurannya… dan semuanya itu berhubungan dengan kertas (bisa digandeng berapa nih desain?) ready stok ndak di toko kertas, mesin cetaknya (mo naik mesin toko? dobel folio? setengah plano? ato satu plano??) kalo naik mesin kecil ancur ndak hasil cetakannya, soale setiap mesin punyaa kelebihan dan kekurangan sendiri sendiri… OK, jadi kapan kapan jangan mudah marah2 en dongkol ama orang cetakan yaa..

    orang offset suka corel pun ada alasannya salah satunya di menu print document kita bisa lihat hasil separasi warna, dimana di program lain ndak ada, kita bisa lihat en bandingin hasil print out film dengan file separasi di corel udah benar atau tidak.

    di surabaya sendiri dulu pasaran banyak yang pake freehand dan pagemaker, kemudian lama lama trennya bergeser ke corel, karena terus terang kita bisa mendesain apa saja dengan corel mulai bikin logo, brosur sampai majalah bisa hanya menggunakan satu program saja. Tapi saat ini si Adobe ngga bodo bodo amat (karena emang ngga bodo) mereka mulai mendekati lembaga pendidikan yang cukup berkelas untuk memasarkan produk mereka, sehingga diharapkan setelah mereka lulus mereka tetap pake program Adobe, sehingga pertempuran berlanjut he he

    membandingkan corel dan ai sama dengan membandingkan Nikon dan Canon

    semoga tulisan saya bermanfaat, salam kreatif dari Surabaya

    • Ary urang banjarmasin says :

      Setuju mas, saya orang percetakan juga, tempat tinggal di kota banjarmasin, bagi saya mau kasih file apa saja biasa mas, soalnya kita orgnya mau belajar dan ga mengharuskan konsumen pakai software tertentu …

  5. Cah mangir says :

    Benar, beberapa kali kita coba print ID Card pake corel ternyata benar-benar tidak dapat mendapatkan warna yang sesuai, malah cenderung warna menjadi lebih buruk.

    bukan menyinggung perusahaan corel. Semoga ini bisa menjadi masukan buat mereka.
    Salam budaya dari jogja.

    www. mangir. web .id

  6. rajak says :

    yap….
    sekarang udah muncul corel x5,
    pengaturan warnanya ga tau dimana….
    (baru pake)…..
    tapi hasil cetaknya juga berubah….

  7. Doel says :

    pengalamanku dulu di bdg hampir semua percetakan yg aku datangi minta file berformat corel..padahal aku dah terbiasa pake illustrator atau freehand..terpaksa belajar corel..ternyata dalam tempo 1 hari dah bisa..corel emg lebih sederhana..ga sia2 belajar corel..coz pas di aceh, illustrator bener2 ga diterima…saranku buat pemula, pakelah corel..

  8. dagofashion says :

    saya asli bandung dan sekarang bekerja disalah satu perusahaan terbesar di bandung yg bergerak di bidang fashion baju2 untuk kalangan remaja, dan dewasa, di perusahaan tempat saya bekerja semua desainernya memakai adobe illustrator, kebetulan big boss orang china, dan ketika aku masuk dulu di prusahaan ini di tesnya hanya adobe illustarator dan photoshop,justru yg wktu itu bisa corel malah dianggap desainer fashion murahan, jadi salah kalo di bandung illustrator ga rame, justru perusahaan2 kelas atas di bandung yg bergerak di fashion kebanyakan memakai adobe ilustrator, kecuali kayanya didaerah pagarsih percetakan kecil2an pada pake corel, karena mungkin SDMnya juga kebanyakan hanya lulusan SMA, beda sama desainer2 yg bekerja di perusahaaan kaya tempat saya bekerja, yang minimal lulusannya s1 atau d3,,itu ceritaku apa ceritamu

    • Ary urang banjarmasin says :

      menurut saya … jangan saling menjatuhkan/menjelekkan, mendingan kuasai aja semuanya, itu akan lebih bagus …

  9. Koclok says :

    Baik pakai corel atau adobe illustrator sama saja….mereka berdua sama2 vektor….yang penting kita main kalibrasi aja….kalo pakai PC Mac bagusan pake Illustrator…kalo Pakai windows gunakan corel draw…asal hasil printer dan monitor hampir sama sekitar 98 % mendekati warna aslinta itu sudah sempurna….jadi tak perlu diributkan toh kalo didunia percetakan kalo konsumen sudah puas, itu sudah cukup…..sekarang tergantung bagaiman mengguinakan software itu secara bijaksana…dan jangan lupa gunakan yang asli…yang jelas saya sudah gunakan yang asli dan jarang hang …biarpun mahal yang penting halal…hehehe….

  10. mans says :

    Ai ditambah plugin xtream path itu sudah mewakili corel secara keseluruhan ditambah ke powerfullan Ai… karena menurut saya corel itu kelebihannya hanya pada pleksibilitas nya aja, nah dengan plugin xtream path itu ke pleksibelan di corel bisa di rasakan di Ai.

bagaimana menurut anda??silakan direspon..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: